Monday, February 18, 2013

LO KHENG HONG MENJADI KAYA SAMBIL TIDUR



Lo Kheng Hong telah menjadi magnet bagi pasar modal Indonesia dan membuatnya sering disebut Warren Buffet-nya Indonesia.

Kisah hidup pria ini memang bisa menjadi inspirasi bagi setiap investor di pasar modal. Masa kecil Lo Keng Hong dilalui dengan keprihatinan. Ayahnya merupakan pegawai kecil. Mereka sekeluarga tinggal di rumah terbuat dari papan di daerah Jakarta Barat.

"Saya dari keluarga tidak mampu, tinggal di rumah tua. Tiap kita lihat ke atas rumah, atapnya bolong karena tidak ada plafon. Letak rumahnya juga sangat rendah, lebih rendah dari jalan raya, sehingga kerap getaran kendaraan di jalan amat mengganggu,"kenang pria yang akrab dipanggil Kheng Hong ini.

Saat lulus SMA, Kheng Hong mencoba melamar kerja. Saat itu, ia melamar kerja di Bank Overseas di daerah Hayam Wuruk. Saat itu, pada 1977, untuk mendapat pekerjaan tidak terlalu sulit. Ia pun diterima bekerja di bagian tata usaha. "Karier saya lama di bank itu karena bank itu tidak ada ekspansi. Sambil kerja saya juga kuliah,"jelas dia.

Dengan kuliah, Kheng Hong berharap kariernya bisa meningkat. Namun ternyata, harapannya kandas. Setelah menjadi sarjana, ia berharap ada promosi karier. "Saya tetap jadi pegawai TU. Yang lebih sakit, gaji saya 350 ribu rupiah, sementara yang fresh graduate 425 ribu rupiah,"ucap dia.

Ia pun memutuskan pindah ke bank lain yang lebih besar. Di sana ia diterima dengan fasilitas gaji dan tunjangan yang lebih baik. Kariernya pun meningkat karena seiring ekspansi bank, ia mendapat posisi sebagai kepala cabang. Gajinya pun meningkat jauh lebih besar. Namun, Kheng Hong punya prinsip hidup hemat.

"Saya hidup hemat, dan uang lebih 100 persen saya gunakan untuk beli saham,"jelas pria yang mengaku tidak pernah berutang dalam membeli saham ini. Pada 1994, saham yang ia beli naik berkali-kali lipat. Dengan kelebihan yang ia miliki, Kheng Hong bisa membeli rumah di kompleks Green Garden, Jakarta Barat.

Dirasa sudah cukup mendapat keuntungan dari saham yang ia miliki, Kheng Hong pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya. "Harta terbesar di dunia ada di pasar modal. Kalau kita tidak kenal pasar modal, maka hal itu sangat disayangkan,"terang pria berusia 53 tahun itu.

Bukan kali itu saja Kheng Hong mengalami peningkatan harta secara pesat. Pada 2005, ia membeli saham Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) dengan harga 250 rupiah. Secara bertahap, Kheng Hong membeli saham MBAI hingga memiliki enam juta saham atau 8,28 persen saham MBAI. Saham itu kemudian naik 12.600 persen menjadi 31.500 rupiah per saham.

Selain di saham itu, Kheng Hong mendapat imbal hasil besar dari PT Hexindo Adiperkasa Tbk, PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Harga Hexindo mengalami kenaikan 14.000 persen dari saat pertama Kheng Hong membelinya.

Sumber Inspirasi
Ada empat alasan mengapa Kheng Hong memilih menjadi investor saham. Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Ia sangat mengidolai Warren Buffet. Dari Buffet, ia belajar banyak hal.

"Saya sudah baca puluhan buku tentang Buffet. Buku-bukunya sangat menginspirasi saya,"terang dia.

Pelajaran kedua yang ia dapat dari membeli saham adalah keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Direksi dan karyawan bekerja keras, tapi ketika perusahaan meraih laba, yang menikmati adalah pemegang saham. Karena itu, Kheng Hong menyarankan pada pemula yang mencoba berkecimpung di pasar modal untuk membeli perusahaan yang memiliki untung besar.

Menurut Kheng Hong, membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang. Karena itu, berbeda dengan investor lain, ia cenderung memilih perusahaan yang menggunakan laba untuk ekspansi usaha daripada membagi dividen ke pemegang saham. Menurut dia, hasil invetasi di saham mengalahkan investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.

Tentang apa yang telah diraihnya saat ini, Kheng Hong mengaku cukup puas. Menjadi investor memberinya dua keuntungan sekaligus. Selain memiliki banyak uang, dia memiliki sangat banyak waktu luang. Sejak awal memutuskan menjadi investor, Kheng Hong memang sudah mengincar kebebasan finansial dan waktu.

"Di dunia ini kan ada empat macam orang. Pertama itu adalah orang yang punya banyak waktu tetapi tidak punya uang (pengangguran). Kedua, orang yang punya banyak uang tetapi tidak punya waktu (pengusaha). Ketiga, orang yang tidak punya uang dan tidak punya waktu (karyawan). Keempat, punya banyak uang dan punya banyak waktu. Itu biasanya seorang investor,"jelas dia.

Dengan menjadi investor, Kheng Hong mengaku terbebas dari rasa pusing untuk mengurus karyawan atau pelanggan jika dia menjadi seorang pengusaha ataupun eksekutif. Pasalnya, segala macam urusan itu telah diserahkan kepada orang-orang profesional yang menjadi direksi, komisaris, manajer, dan karyawan.

Padahal, keuntungan terbesar dari keberhasilan yang dicapai perusahaan sepenuhnya merupakan hak dari pemegang saham atau investor. Direksi, komisaris, atau karyawan hanya mendapat jatah dari gaji dan bonus yang diberikan.

"Jadi, falsafah hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. Kan namanya sleeping partner karena saya nggak boleh ikut campur,"kata pria yang memilih tidak mau menjadi komisaris di sejumlah emiten meski dia memiliki hak dengan porsi saham yang relatif besar. wan/E-11



Empat Jurus Memilih Saham

Menjadi sukses dalam bermain saham tentunya punya strategi khusus. Bagi Kheng Hong yang sangat terinspirasi dengan Warren Buffet ini, terdapat empat syarat yang harus dipenuhi sebelum dia memutuskan untuk membeli saham tertentu.

Syarat yang pertama dan paling utama dalam membeli saham adalah manajemen, termasuk pemegang saham pengendali yang menunjuk jajaran manajemen. Menjadi investor di suatu perusahaan berarti memercayakan seluruh harta milik kita ke manajemen.

"Jika dalam membeli properti pertimbangan utamanya adalah lokasi, lokasi, dan lokasi, maka dalam membeli saham, yang menjadi pertimbangan utama adalah manajemen, manajemen, dan manajemen,"kata Kheng Hong. Secara spesifik, dia mengaku emiten-emiten dalam Grup Astra, dan BUMN telah terbukti baik.

Selanjutnya, syarat lain yang mendorong Kheng Hong membeli suatu saham adalah perusahaan tersebut harus memiliki bisnis yang hebat. Bisnis yang hebat ini bisa diukur dari tingkat profitabilitas suatu perusahaan, misalnya saja dari tingkat Return on Equity (ROE) yang tinggi atau dari marjin laba bersihnya.

Untuk kategori bisnis yang hebat ini, Kheng Hong menunjuk bisnis produksi DOC milik Multibreeder (MBAI) yang sulit dimasuki pemain lain. Saat ini, praktis di Indonesia hanya ada dua pemain yang bisa eksis di bisnis yang harus dikelola dengan standar biosecurity yang sangat tinggi itu.

Syarat yang ketiga, yang dilihat Kheng Hong adalah jenis perusahaan yang bertumbuh atau growing. Dia memilah peruahaan menjadi empat kategori. Pertama, perusahaan yang merugi terus. Kedua, perusahaan yang kadang untung dan kadang rugi. Ketiga, perusahaan yang laba terus tetapi stagnan.

"Jenis perusahaan yang keempat itu adalah perusahaan yang bisa menghasilkan laba yang terus bertumbuh setiap tahunnya. Ini adalah perusahaan yang growing,"kata pria yang punya hobi mengamati laporan keuangan emiten ini.

Terakhir, pertimbangan Kheng Hong dalam memilih saham adalah valuasi yang murah. Berbeda dengan investor umumnya, Kheng Hong konsisten memvaluasi saham berdasarkan kemampuannya mencetak laba (Price Earning Ratio). Dia tidak mempermasalahkan jika harga suatu saham telah naik tinggi, asalkan PE-nya masih relatif kecil. nse/E-11
© koran-jakarta.com